17 Mei 2010

tokoh genius muslim- ABU AL WAFA’ AL BUZJANI

expr:id='"post-body-" + data:post.id'> Albuzdschan adalah nama lain dari Abu Wafa’.Ia di kenal sebagai seorang astronom
dan Matematikawan Arab terbesar yang lahir dari lingkungan kaum Buy, di Buzddschan Khurasan Pada 1 Ramadhan 328 H/10 Juni 940 M. Agaknya perlu dicatat bahwa pada awal abad ke–4 H.Kaum Buy Tibristan cukup masyur dalam memberi warna segar bagi dunia ilmu sepanjang sejarah perjalanan dunia Arab pada masa itu. Ini mengingatkan pula pada khurasan dengan kaum Thahiriyahnya serta Transxania dengan kaum Samaniyahnya.

Abu Wafa’ yang nama lengkapnya , Muhammad bin Muhammad bin Yahya bin Ismail al Abbas Abu Wafa’ al Buzjani,juga termasuk seorang ahli yang paling disegani pada masanya. Mula – mula ia belajar matematika pada dua orang pamannya , Abu Amr al – Mughazili dan Abu Abdullah Muhammad bin Anbasa. Menurut Ibnu Al – Athar dan Ibnu Khalikan , pada tahun 348 H/959 M.Abu Wafa’ pindah ke Irak guna meneliti gerak bintang disana , dan menetap di Baghdad sampai ia meninggal pada bulan Rajb 388 H / Juli 998 M.


Di Baghdad Abu Wafa’ membuat karya – karya tentang astronomi yang berharga , meskipun karyanya itu masih kalah bobotnya dibandingkan dengan penelitian – penelitian yang dilakukannya dalam bidang matematika murni. Disamping membahas sejumlah masalah menarik dalam geometri murni, ia juga sangat berperan dalam membantu pengembangan trigonometri, baik trigonometri bidang maupun trigonometri ruang. Abu Wafa’ juga memberikan metode baru penyusunan daftar – daftar sinus. Bahkan sejumlah ahli matematika Eropa telah membahas masalah – masalah terpisah yang ditangani oleh Abu Wafa’ , misalnya Delambre dalam”Histoire de La’astronomie an Moyen Age dan H. Suter dalam Encyclopedia of Islam, tetapi teksnya yang lengkap belum pernah diterbitkan.

Banyak buku dan karya ilmiah telah dihasilkannya dan mencakup banyak bidang ilmu. Namun tak banyak karyanya yang tertinggal hingga saat ini. Sejumlah karyanya hilang, sedang yang masih ada, sudah dimodifikasi. Kontribusinya dalam bentuk karya ilmiah antara lain dalam bentuk kitab Ilm al-Hisab (Buku Praktis Aritmatika), Al-Kitab Al-Kamil (Buku Lengkap), dan Kitab al-Handasah (Geometri Terapan). Abu Wafa’ pun banyak menuangkan karya tulisnya di jurnal ilmiah Euclid, Diophantos dan al-Khawarizmi, tetapi sayangnya banyak yang telah hilang.
Namun tabel – tabel yang disebut “Az- Ziij as – Shamil “di Florence Paris dan London dengan penulis yang tak disebutkan namanya, sangat mungkin merupakan bentuk penyesuaian dari tabel – tabel karya Abu Wafa’. Jasa utama Abu Wafa’ sebenarnya terletak pada pengembangannya yang lebih jauh terhadap trigonometri. Dalam trigonometri sferis, ia berhasil menyempurnakan teorema- teorema Menelaus,yang disebut “Rule of the Four Mangnitude” (“Aturan Empat Besaran”), yakni: Sin a: Sin c = Sin A : 1, dan teorema tangen : tg a: tg A = Sin b :1.Dari rumus –rumus ini Abu Wafa’ mengambil kesimpulan :

Cos c = Cos a . Cos b



Di samping itu, Abul Wafa membuat studi khusus menyangkut teori tangen dan tabel penghitungan tangen. Dia memperkenalkan secan dan cosecan untuk pertama kalinya, berhasil mengetahui relasi antara garis-garis trigonometri yang mana berguna untuk memetakannya serta pula meletakkan dasar bagi keberlanjutan studi teori conic. Abul Wafa bukan cuma ahli matematika, namun juga piawai dalam bidang ilmu astronomi. Beberapa tahun dihabiskannya untuk mempelajari perbedaan pergerakan bulan dan menemukan "variasi". Dia pun tercatat sebagai salah satu dari penerjemah bahasa Arab dan komentator karya-karya Yunani.
Terhadap saham Abu Wafa’ mengenai variasi gerak bulan dan trigonometri seperti disebutkan diatas,masih menjadi perdebatan antar L.A Sedillot dan Charles di satu pihak,dengan Biot Arago, Munk dan joseph Bertrand di lain pihak,sampai akhirnya Prof.Dr.Carra de Vaux memberi kejelasan duduk soal yang sebenarnya.Bagi Dr.Carra sendiri, teori trigonometri penemuanAbu Wafa’ tersebut tak lagi diragukan kebenarannya sedang dipakai Abu Wafa’ sendiri.Hal ini sudah terlalu benderang ,karena ia bahkan telah pula memberikan rumus untuk menambahkan dengan memakai sudut seperti ;

Sin⁡〖( a+b )〗=(Sin a.Cos b+Sin b.Cos a )/R

Selain itu,ia juga menerapkan teori quadrature parabola dan volume parabola dan ruang penuh dalam astronomi. Begitu pula pendapatnya tentang garis bayang – bayang (diameter of the shadow).Untuk sebuah segitiga sferia bukan tegak lurus (non –perpendicular sphericai triangle)- ia juga terukir sebagai penemu pertama dari secan atau “qurr al – zill “ yang selama ini diyakini bahwa menemukannya adalah Coppernicus.
Kendati demikian, sumbangsihnya bagi teori trigonometri amatlah signifikan terutama pengembangan pada rumus tangen, penemuan awal terhadap rumus secan dan cosecan. Maka dari itu, sejumlah besar rumus trigomometri tak bisa dilepaskan dari nama Abul Wafa. Seperti disebutkan dalam Alquran maupun hadis, agama Islam menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Inilah yang dihayati oleh sang ilmuwan Muslim, Abul Wafa Muhammad hingga segenap kehidupannya dia abdikan demi kemajuan ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar